This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Informasi. Show all posts
Showing posts with label Informasi. Show all posts

Thursday, 26 March 2015

4 Penyakit Sosial Otaku Ini Mewabah di Indonesia!

Sebuah poling dilakukan terhadap 1159 pengguna internet Indonesia, lebih dari 40% dari mereka ternyata terjangkit penyakit sosial otaku! Apakah kamu termasuk di dalamnya?

 

 

Kamu pasti tidak asing lagi dengan istilah otaku. Otaku dalam bahasa Jepang bisa diartikan sebagai seseorang yang memiliki ketertarikan terhadap sesuatu, kebanyakan terhadap anime dan manga. Sementara di Indonesia sendiri, otaku dipersempit hanya dengan individu yang tertarik pada anime dan manga. Nah, otaku ini, walau tidak semuanya, banyak sekali yang terlalu berlebihan mendedikasikan diri mereka terhadap hobi mereka sehingga terjangkit penyakit sosial.


Lantas, apa saja penyakit sosial otaku?

Penyakit sosial otaku ini ada empat, yaitu: Chuunibyou, Wibu, Nijikon, dan Hikikomori. Keempat penyakit sosial otaku ini adalah yang paling banyak kita temui di Indonesia. Sebuah poling dilakukan oleh seorang user Kaskus terhadap 1159 orang. Hasilnya? Lebih dari 40% atau sekitar 470 orang mengaku bahwa mereka terkena penyakit sosial otaku. Berikut ini detil hasil poling tersebut beserta dengan penjelasan setiap penyakit otaku yang mewabah di Indonesia.

 Chuunibyou – 188 votes (16%)

Peraih voting terbanyak dari empat penyakit sosial otaku yang ada. Chuunibyou secara kasar bisa diartikan sebagai ‘sindrom kelas 2 SMP’. Disebut sindrom kelas 2 SMP karena biasanya menjangkit anak-anak yang menginjak umur 14 tahun atau kelas 2 SMP.

Orang yang terjangkit chuunibyou ini biasanya memiliki tingkah laku sesuai dengan imajinasinya (misal: bisa melihat hantu, menggunakan penggaris kayu sebagai pedang, dan bisa mengeluarkan kamehameha). Dan mereka melakukannya karena mereka benar-benar percaya demikian. Biasanya penderita Chuunibyou akan sembuh begitu menginjak dewasa, tetapi dalam kasus tertentu, ada juga pasien Chuunibyou yang terjangkit hingga dewasa.

Tingkah orang yang terkena Chuunibyou ini terkadang menjengkelkan, tapi kalau kita lihat sisi positifnya, orang-orang yang penderita (atau setidaknya mantan penderita) Chuunibyou ini memiliki potensi yang bagus untuk bermain film/teater, lho! Mereka tidak perlu kursus akting lagi karena mereka sudah terbiasa melakukannya. Hehe.

Itulah tadi 4 penyakit sosial otaku yang mewabah di Indonesia. Perlu dicatat bahwa tidak semua otaku menderita penyakit sosial tersebut dan tidak semua otaku seaneh itu. Jadi, bagaimana pendapatmu soal penyakit sosial otaku ini? Atau, apakah kamu termasuk didalamnya?

Hikikomori – 149 votes (13%)

Peraih suara terbanyak kedua, Hikikomori. Penyakit sosial otaku yang satu ini bisa diartikan sebagai ‘menarik diri’ dari kehidupan sosial. Mungkin sebagian dari kamu akan berpikir bahwa Hikikomori sama dengan ansos, tetapi pada kenyataannya tidak –setidaknya tidak secara keseluruhan. Hikikomori cenderung penarikan diri secara ekstrim, mereka mengisolasi diri dalam kamar dalam jangka waktu yang sangat lama. Tipikalnya, pelaku Hikikomori tenggelam dalam tayangan televisi atau komputer di dalam kamar hingga hampir-hampir tidak pernah tidur. Perilaku ini dapat berujung pada gangguan psikologis seperti schizoprenia

Penyebab dari Hikikomori ini ada banyak, tetapi intinya hanya satu: rasa trauma yang hebat yang dialami penderita saat berada di masyarakat sosial.

Nijikon – 67 votes (6%)

Nijikon hanya menang satu suara dari wibu. Apa itu Nijikon? Nijikon bisa diartikan seseorang yang terobsesi dan jatuh cinta pada karakter dua dimensi atau karakter-karakter fiksi. Dalam bahasa sederhana: jones. Yah, biasanya gejala awal penyakit ini sering banget ngaku-ngaku bahwa suatu karakter anime itu adalah waifu-nya (atau husbando untuk para cewek).

Orang yang terjangkit Nijikon akan sangat mencintai karakter fiksi yang disukai, marah-marah jika ada karakter lain yang berani mendekatinya, dan biasanya pergi kemana-mana dengan karakter tersebut (biasanya dalam bentuk dakimakura). Dalam kasus ekstrim, ada penderita Nijikon yang sama sekali tidak tertarik dengan makhluk nyata dan bahkan sampai menikahi karakter fiksi yang dia cintai.
 
Tapi, dibalik semua antics Nijikon, ada sebuah hikmah positif yang bisa kita ambil dari penyakit sosial otaku yang satu ini, yaitu: saingan kita dalam mencari pasangan menjadi berkurang! Hehe.

Meskipun begitu, sepertinya lebih banyak negatifnya daripada positifnya, misalnya saja: bisa menghancurkan tatanan perekonomian global! (Ini beneran lho!)

 Wibu – 66 votes (6%)


Wibu jelas adalah seorang otaku. Akan tetapi otaku belum tentu adalah seorang wibu. Wibu berada pada tingkatan dimana seorang otaku mendedikasikan dirinya terlalu berlebihan terhadap hal-hal yang berbau Jepang. Dari empat penyakit sosial otaku yang ada, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Wibu adalah yang paling menjengkelkan. Kenapa? Karena orang yang disebut wibu adalah mereka yang mendewakan segala sesuatu tentang Jepang. Pokoknya segala sesuatu tentang Jepang menurut mereka is the best-lah! Jika ada yang berani sedikit saja mengkritik sesuatu tentang Jepang pasti mereka bakalan maju ke garis depan dan membelanya mati-matian.

Wibu di Indonesia bisa termasuk parah –pakai banget. Kita pernah membahas dalam artikel sebelumnya tentang potret wibu di Indonesia. Mereka menganggap kehidupan dunia nyata itu membosankan, hidup sebagai seorang hikikomori dan NEET itu keren, dan nggak bakalan rela kalau ada yang bilang Anime adalah kartun. Well, dalam beberapa kasus ekstrim, malah mereka nggak mengakui bahwa pantsu adalah celana dalam dan jitensha adalah sepeda. Hello…? Padahal sebenarnya juga sama saja –cuma beda bahasa.

sumber : duniaku.net



Saturday, 14 March 2015

Seperti apa gaya rambut yang populer di Jepang?

Orang Jepang dikenal atas selera fashion mereka. Lihatlah beberapa gaya rambut populer dari Jepang yang dapat kalian pilih berikut ini. Semuanya dari gaya sehari-hari hingga gaya rambut pernikahan yang indah dapat ditemukan di sini. Berikut adalah beberapa galeri salon yang kalian bisa lihat (klik link-nya).






 Rasysa






 


Wednesday, 11 March 2015

Ninja, Senjata Andalan Pariwisata Jepang

Ninja adalah salah satu simbol yang paling mudah dikenali di Jepang. Prajurit mata-mata yang ditakuti ini berubah menjadi ikon budaya pop yang digambarkan melalui komik dan film. Wajah bertopeng dan dongeng kekuatan menghilang terus menginspirasi hingga saat ini. Dewan Pariwisata Jepang berharap untuk memanfaatkan kepopuleran sosok ninja. 


Dikutip dari The Telegraph Travel, untuk membangkitkan minat mengenal sejarah ninja, minggu lalu Badan Ninja telah didirikan. Aktivitas yang terkait dengan ninja merupakan bagian dari kampanye pariwisata Jepang. Wali kota dan para gubernur dari perfektur di seluruh Jepang berkostum seperti ninja, lengkap dengan ikat kepala untuk meluncurkan inisiatif tersebut.


“Melalui ninja, kami ingin menghidupkan kembali masyarakat kita,” kata Eikei Suzuki, Gubernur perfektur Mie dan salah satu orang yang berkostum hitam kepada Japan Times.Daerah Mie adalah sebuah tempat dikenal sebagai Perguruan Iga, tempat di mana Ninjitsu lahir. Dalam beberapa tahun terakhir, jika ingin mencoba melempar alat tempur ninja berupa bintang, sebaiknya bersiap untuk menuju Iga. Perguruan Iga dapat ditempuh dengan kereta api selama 2,5 jam dari Osaka. Perguruan Iga setiap tahun menyelenggarakan Festival Ninja yang dikenal dengan Festival Iga-Ueno. 


Saat ini pemerintah ingin menambah daftar pertunjukkan yang terkait dengan era penjajahan. Seni bela diri tradisional saat ini ada di website Dewan Pariwisata Jepang sehingga wisatawan dapat mempelajari lebih lanjut.

“Ninja adalah hal yang selalu dikenal yang dapat mempromosikan pariwisata," kata Hiroshi Mizohata, Ketua Dewan Pariwisata Jepang.
Pemerintah Jepang berharap mengenalkan ninja dapat menarik kunjungan wisatawan dan dapat berlanjut hingga Olimpiade yang akan digelar di tahun 2020.

Saturday, 7 March 2015

Usia Capai 117 Tahun, Misao Okawa Bilang Waktu Cepat Berlalu

Misao Okawa tidak bisa menyembunyikan rasa bangga dan bahagianya. Kemarin (5/3) ibu tiga anak itu genap berusia 117 tahun. Tapi, keluarga besar dan Pemerintah Kota Osaka, Prefektur Osaka, Jepang, sengaja menggelar pesta ulang tahun sehari sebelumnya Rabu lalu (4/3).


“Selamat ulang tahun,” bisik Takehiro Ogura ke telinga Okawa yang tidak berhenti menyunggingkan senyum. Seikat bunga lantas dia letakkan ke tangan perempuan yang memiliki empat cucu dan enam buyut tersebut. Ogura adalah pejabat yang mewakili Pemerintah Kota (Pemkot) Osaka untuk menghadiri perayaan istimewa tersebut sebagai bentuk apresiasi.
Dalam kesempatan itu, Ogura sempat bertanya kepada Okawa tentang perasaannya menjadi orang tertua di dunia. “Apakah (117 tahun) itu lama?’ tanyanya. Okawa pun lantas menjawab pertanyaan tersebut dengan mantap. ‘Ini (terasa) sebentar,’ tegas perempuan sepuh yang terlihat segar dalam balutan kimono bermotif bunga sakura itu. Jawaban tersebut langsung disambut tawa bahagia keluarga besarnya.
Di usianya yang sudah lebih dari satu abad itu, kondisi fisik Okawa masih cukup prima. ‘Beliau masih cukup sehat,’ kata salah seorang perawat di panti jompo yang menjadi ‘rumah’ janda Yukio tersebut. Hiroshi, putra sulung Okawa, mengungkapkan hal yang sama. Meski tidak bisa melakukan banyak kegiatan lagi, Okawa masih aktif bergerak.
Pendengaran manusia tertua versi Guinness World Records pada 2013 itu memang sudah berkurang. Dia juga harus menggunakan kursi roda untuk membantu memperlancar mobilitasnya. Tapi, dia masih bisa makan dan minum secara normal, tanpa bantuan alat. Saat ditanya tentang rahasia umur panjangnya, Okawa tidak bisa menjawab. ‘Saya sendiri tidak tahu,’ ucapnya.
Jepang, sejauh ini, memang menjadi negara yang memiliki penduduk lanjut usia paling banyak di dunia. Selain Okawa, Negeri Sakura itu menjadi tempat tinggal laki-laki tertua di dunia, Sakari Momoi. Saat ini, Momoi berusia 112 tahun. Dibandingkan dengan negara-negara lain, tingkat keawetan hidup penduduk Jepang memang yang paling tinggi di dunia.
Pada 2013, Kementerian Kesehatan Jepang merilis data tentang usia harapan hidup penduduknya. Di negara yang terkenal dengan kuliner mentahnya itu, kaum hawa memiliki usia harapan hidup sampai 86,91 tahun. Itu merupakan yang paling tinggi di dunia. Sementara itu, usia harapan hidup bagi kaum adam Jepang mencapai 80,21 tahun atau tercatat sebagai yang tertinggi keempat di dunia.

Sunday, 1 February 2015

Tips Tetap Sehat Selama Wisata di Jepang!

Apakah Anda berencana pergi ke Jepang di musim dingin untuk mencoba jalur ski dan snowboarding kelas dunia mereka. Jagalah kesehatan Anda dengan 5 kiat di bawah.



Meski kebanyakan orang menyamakan olahraga salju dengan patah tulang, yang tidak disadari adalah banyak yang sampai di Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit, disebabkan oleh hal-hal kecil dari sakit maag sampai infeksi telinga dan serangan asma untuk pertama kalinya.

Kabar baiknya adalah semua penyakit ini dapat dihindari. Tetapi budaya yang berbeda dapat menyebabkan risiko kesehatan yang berbeda-beda dan mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan sebelumya terlebih dahulu bisa rumit dan kemungkinn besar mustahil. Dengan mengikuti beberapa aturan sederhana, Anda pun dapat menghindari pergi ke UGD. 

Mishuku dan Ryokan 

Menginap di minshuku dan ryokan adalah salah satu pengalaman yang klasik dan penting ketika berwisata ke Jepang. Tempat-tempat ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan kamar hotel seperti suasana tradisional Jepang (tikar jerami tatami dan futon), makanan rumahan, dan yang terpenting adalah Anda dapat merasakan layanan orang-orang Jepang secara maksimum (omotenashi atau Japanese hospitality).

Tetapi selain ryokan yang mewah, akomodasi Jepang lainnya yang sangat tradisional melibatkan fasilitas mandi dan mencuci bersama. Hal ini baik-baik saja jika Anda sudah mengetahui hal tersebut. Tapi jika Anda tidak berhati-hati, fasilitas-fasilitas umum ini bisa menjadi jalan tol penyebaran bakteri dan virus. Dr. Wuthrich, seorang dokter yang bekerja di Jakson Hole, Wyoming, mengatakan bahwa hal sederhana untuk menghindari virus adalah dengan membawa tisu antibakteri. 

“Bersihkan kran, tombol-tombol flush toilet, dan kait handuk sebelum menggunakannya,” kata Dr. Wuthrich. Jika Anda mudah kena flu atau jika Anda merasa ragu, pilihlah sebuah apartemen studio atau kamar hotel. 

Asma dan penyakit pernafasan lainnya.

Jauhi akomodasi murah yang sudah tua. Tempat-tempat seperti ini memiliki kemungkinan tinggi tidak merubah tikar tatami dan juga tempat tidur(futon) mereka. Merokok adalah kegiatan yang masih populer di Jepang sehingga asap rokok mungkin menempel di tirai.

“Akomodasi tua tidak menjadi masalah selama bersih, “ kata Dr. Wuthrich, yang pernah menetap di Jepang. “Tungau tinggal di tempat tidur dan karpet yang kotor. Tirai umumnya tidak apa-apa tetapi debu masih bisa menjadi masalah bagi mereka yang rentan terhadap asma.”

Hal-hal seperti ini sering dianggap remeh. Pemesanan akomodasi zaman sekarang seperti memesan sesuatu tanpa melihat kondisinya. Seringnya kebanyakan wisatawan memesan di menit terakhir dan pada akhirnya harus mengambil apa yang ada saja. Mulailah mempersiapkan pemesanan Anda dari jauh-jauh sehingga Anda masih memiliki beberapa pilihan tempat tinggal.

Sandal umum tidak apa-apa, jika…

Ketika memasuki minshuku atau ryokan, kemungkinan besar anda Akan menemukan barisan sandal yang mudah untuk dipakai oleh para tamu setelah melepaskan sepatu mereka. Ya, mereka terbuat dari plastic bisa dibilang menjijikan! 

Banyak orang asing yang telah memakai sandal tersebut. Sehingga bayangkan ribuan spora jamur yang melekat pada sandal. Menurut Dr. Wuthrich tidak masalah selama Anda menggunakan kaus kaki. Kaus kaki dapat melindungi Anda dari banyak penyakit.

Di onsen (pemandian air panas)

Semua orang pasti ingin merasakan onsen legendaris Jepang, tetapi pastikan Anda atau anak-anak Anda tidak mencelupkan kepala ke dalam air. Tidak hanya hal itu dianggap tidak sopan, tetapi juga bisa menyebabkan infeksi telinga dan juga masalah pencernaan (jika tidak sengaja meminum air onsen). 

Juga jangan masuk ke dalam onsen jika Anda memiliki luka. Tentunya, mandi yang bersih sebelum Anda masuk ke pemandian air panas. Onsen di Jepang rata-rata dipanaskan hingga 38 derajat celcius.

Cuci tangan Anda

Sabun antiseptik mudah ditemukan di Jepang. Semua bangunan publik dan tempat-tempat di mana uang ditukarkan akan mempunya botol-botol sabun yang siap untuk digunakan. Jangan hanya perhatikan botol tersebut tetapi gunakanlah sebelum dan sesudah anda memegang uang. 

Kebanyakan orang Jepang segera mencuci tangan mereka setelah masuk ke dalam ruangan hanya untuk memastikan agar bakteri-bakteri tidak masuk dan menyebar. Ingatlah tips ini dan nikmatilah perjalanan wisata Anda yang sehat ke Jepang!

sumber : kompas.com

Tuesday, 14 January 2014

Kastil Yang Menakjubkan di Jepang


Apa yang ada dipikiran kalian saat mendengar kata kastil??? ehmmm……istana? raja? bangunan yang megah? yap, itu semua benar. Begitulah gambaran kastil. Bangunan yang dibangun untuk melindungi raja dan keluarganya di zaman dahulu. Di Jepang sendiri, kita dapat menjumpai banyak kastil. Dan berikut ini adalah daftar kastil terpopuler di Jepang:

Himeji Castle

Kastil ini banyak muncul di berbagai film seperti  The Last Samurai, beberapa film Kurosawa, dan dalam miniseri TV, Shogun. Juga dikenal sebagai “White Castle Heron”, Istana Himeji pada awalnya dibangun pada abad ke-14, dan kemudian dibangun kembali pada tahun 1580. Dan J-CUL sudah pernah membahasnya secara terperinci mengenai Himaji Castle yang merupakan istana termegah di Jepang dan dapat dibaca kembali disini


Matsumoto Castle

Matsumoto Castle merupakan salah satu dari empat istana yang ditetapkan sebagai “Harta Karun Nasional Jepang dan menara utama istana tertua yang tersisa di Jepang”. Konstruksi dimulai pada tahun 1592 dari struktur hitam dan putih yang elegan dengan tiga menara. Disebut sebagai “Castle Crowkarena” karena warnanya yang hitam. Selengkapnya mengenai kastil ini dapat dibaca disini





 Maruoka Castle

Juga dikenal sebagai ”Istana Kabut” karena kabut yang mengaburkan benteng legendaris ketika musuh pendekatan. Maruoka Castle dibangun pada 1576 dan terletak di Sakai, Jepang.







Hiroshima Castle

Hiroshima Castle dibangun pada tahun 1590 dan hancur dalam Perang Dunia II oleh bom atom. Sejak saat itu telah dibangun kembali dan sekarang menjadi museum.







Fukuyama Castle

Awalnya dibangun dengan parit ganda dalam abad ke-17, Fukuyama Castle adalah sebuah istana utama di Periode Edo. Dan dibangun kembali setelah Perang Dunia II dan berisi sebuah museum sejarah







Kiyosu Castle

Kiyosu Castle terletak di Prefektur Aichi, Jepang. Ini adalah dasar dari Oda Nobunaga yang muncul dalam film KurosawaKagemusha







Matsue Castle

Juga dikenal sebagai “Istana Hitam”, ini adalah salah satu dari beberapa kastil di Jepang yang terbentuk dari kayu asli. Dari luar tampak seperti sebuah kastil lima lantai, namun memiliki tingkat tersembunyi keenam. Matsue castle selesai pada tahun 1622







Nagoya Castle

Dibangun pada awal abad 16, Nagoya Castle dibangun kembali setelah hancur dalam Perang Dunia II di mana ia juga digunakan sebagai camp tawanan perang.


Okayama Castle

Okayama Castle adalah sebuah kastil hitam yang spektakuler yang terletak di Okayama,Jepang. Kadang-kadang disebut ”Crow Castle” atau kastil gagak .


Shimabara Castle

Shimabara Castle adalah Kastil berlai 5 tingkat. Kastil putih ini terletak di Nagasaki Prefecture.Pajak yang dikenakan pada petani lokal untuk membangun kastil itu begitu parah sehingga mereka memberontak dalam sebuah acara yang disebut Pemberontakan Shimabara. Shimabara Castle selesai pada 1624.





sekian dulu infonya,,,

sumber : J-cul.com

Kiyomizu-dera Temple


Kiyomizu-dera (清水寺), officially Otowa-san Kiyomizu-dera (音羽山清水寺) merupakan kuil Budha kuno, yang dibangun pada tahun 798 dan sudah 10 kali mengalami kerusakan atau terbakar akibat perang atau bencana alam. Di belakang kuil utama terdapat kuil Jishu-jinja yang disebut dengan Dewa Perjodohan, dan di depan kuil terdapat 2 batu yang sering disebut “Batu Buta” dan “Batu Peramal Cinta”.







Konon kabarnya menurut penduduk setempat dengan menutup mata berjarak 100 m kita berjalan menuju batu buta tersebut dengan menutup mata atau memejamkan mata dan sampai tepat di depan batu buta, maka keinginan kita akan tercapai. Dan untuk menguji kesetiaan hati pada pasangan, kita dapat mencoba batu peramal cinta, caranya tetap sama dengan memejamkan mata, namun bila arah kaki kita tidak tepat menuju batu peramal cinta atau melenceng jauh maka hati kita masih memikirkan orang lain.

Bagaimana jika tidak berhasil di batu cinta? Tidak perlu khawatir, karena kuil ini juga menjual berbagai jimat. Ada jimat khusus untuk pernikahan bahagia, hubungan yang langgeng bahkan jimat sesuai dengan zodiak untuk membantu melancarkan nasib percintaan.






 Setelah mengunjungi kuil, berkeliling di Sannenzaka, sebuah area belanja berjejer secara tradisional, toko kayu menjual Kiyomizu-yaki, sejenis keramik yang berhubungan dengan daerah dan yatsuhashi - sejenis snack Jepang yang terbuat dari tepung beras yang dapat dimakan mentah ataudipanggang. Anda dapat mengikuti jalan ini karena akan terdapat jalan turun melewati Nene no MichiKodaiji ke Gion - tempat bersenang-senangtradisional dan tempat perkumpulan geisha kota tersebut. Dalam perjalanan ini Yasaka Gojonoto, kuil dengan lima lantai berada didekat pintu masuk ke Kiyomizudera ada sejumlah toko-toko suvenir yang menarik pengunjung dengan teh gratis. Mereka menjual berbagai seni dan kerajinan Kyoto serta makanan kering dan teh



Biaya masuk (300 yen) ke kuil kedua; setiap hari dari 6:00 pagi sampai 6:00.sore.
Cara Menuju ke Kiyomizudera 
Dari Stasiun Kyoto memerlukan waktu 20 menit dengan menggunakan bus. Pilih bus dengan nomor #100 atau #206 dan turun pada pemberhentian Kiyomizu-michi atau Gojo-zaka. Dari sana anda dapat melanjutkan dengan berjalan kaki naik ke bukit yang memakan waktu 15 menit. Dari Stasiun Keihan Gojo, dapat berjalan kaki sekitar 20 menit. Dan dariShijo-Kawaramachi, pilih bus nomor #207, #80, atau  #85.
Beberpa ulasan dari trip advisor mengenai Kiyomizi dera Temple:
  • Skinner17 (Denpasar)–>> Perjalanan panjang, melihat bukit yang sangat indah. Mengunjungi Kiyomizi dera memerlukan tenaga yang kuat, karena jalanan yang menanjak. Diperlukan biaya tambahan untuk melihat Kiyomizi dera secara keseluruhan, namun untuk area depan temple, digratiskan.
  • Tomy66 (Tokyo)–>> Daun musim gugur terlihat sangat indah dari Shimizu stage. Tetapi sangat disayangkan saat itu dalam perbaikan.
  • Wataridori (Tokyo)–>> Saya akan datang lain kali! Daun musim gugur sangat sangat indah
  • Kanpei (Hamamatsu)–>> Tempat ini seperti Kyoto. Toko souvenir menyediakan barang-barang yang sangat lucu.
  • Cafemoca (Yokohama)–>> Puncaknya sangat indah. Anda memerlukan alas kaki yang nyaman untukk naik turun di sini. Pemandangan yang sangat indah akan Anda dapatkan saat berada diatas.

Sumber : J-cul.com

Shinjuku Gyoen

 Shinjuku Gyoen (新宿御苑) merupakan salah satu taman terbesar dan yang paling populer di daerah Tokyo. Dapat diakses hanya dengan berjalan kaki dari Stasiun Shinjuku. Pada musim semi, Shinjuku Gyoen menjadi salah satu tempat terbaik di kota untuk melihat bunga sakura.

Shijuku Gyoen dibangun pada Oeriode Edo (1603-1867) sebagai pusat federal Tokyo. Kemudian pada tahun 1903 diubah menjadi kebun raya keluarga kekaisaran. Pada perang dunia ke II taman ini nyaris hancur, namun akhirnya dibangun kembali dan dibuka pada tahun 1949 sebagai taman untuk umum. Suasana yang sangat damai di tengah hiruk pikuk pusat perkotaan, taman rumput yang luas, pemandangan yang tenang memberikan suasana ketenangan dan menjadi daya tarik tempat ini. 

Shinjuku Gate dapat dicapai 10 menit dengan berjalan kaki dari “New South Exit” dari JR Shinjuku Station atau lima menit berjalan kaki dari Shinjukugyoenmae Station di jalur Marunouchi Subway Line. Dari Okido Gate, yaitu 5 menit berjalan kaki dari Shinjukugyoenmae Station di jalur Marunouchi Subway Line.

Dari Sendagaya Gate, yaitu 5 menit berjalan kaki dari JR Sendagaya Station di jalur local Chuo/Sobu Line.


 peta akses menuju ke Shinjuku Gyoen






 peta taman






Berikut ini adalah komentar para pengunjung Shinjuku Gyoen di Tripadvisor:
  • Domcari (Kagoshima)–>> Saya datang pada bulan April, cuaca masih dingin di musim semi. Bunga Sakura terlihat sangat luar biasa. Saya akan datang lagi.
  • Gmm94735 (Chiba Sakura)–>> Pemandangan taman yang hijau, seperti sebuah hutan kecil dan terdapat danau. Sebuah taman yang sangat tenang di tengah-tengah kota.
  • Lehua (Saitama)–>> Saya datang ke Shinjuku dan pergi ke Shinjuku Gyoen. Tiket masuk ¥ 200 untuk orang dewasa, SD dan siswa SMP biaya masuk ¥50, dan untuk balita digratiskan. Bunga sakura di musim semi sungguh indah, ada juga bunga-bunga jenis lainnya yang sangat spektakuler, dan jangan lupa untuk mengunjungi Tropical Botanical Garden. Halaman taman sangat luas, sambil menikmati makan siang disini sungguh sangat menyenangkan. Gedung-Gedung tinggi dan pepohonan yang hijau menemani suasana makan siang saya. Namun membawa alkohol sangat dilarang!
  • Ikeda Hiroko (Tokyo)–>> Cherry blossom yang menyejukkan hati. Menikmati keindahan bunga sakura sepanjang hari. Pencampuran tradisional Jepang dan Inggris dengan pemandangan taman gaya Perancis.
  • diverTANUKI (Nagoya)–>> Waktu yang sangat tepat untuk melihat Ginko. Hari ini sangat cerah, saya melihat daun-daun kuning dengan langit yang biru, ini sangat indah.
  • dqdys897 (Tokyo)–>> Tempat ini dianjurkan untuk melihat bunga sakura dan daun musim gugur. Saya datang saat cuaca sangat baik. Tiket masuk hanya ¥ 200. Ditutup pada pukul 16:00. Taman dirawat dengan bersih dan indah dalam kondisi yangs anagt teratur. Anda dapat makan siang disini pada saat hari yang bagus karena terdapat banyak kursi rekreasi dan juga rumput














Sampai bertemu di Jepang. Teman-teman...

sumber : j-cul.com




Wednesday, 9 October 2013

Sejarah Islam Di Jepang

Dari dulu Jepang dikenal sebagai negara penganut agama Shinto dan Buddha. Apakah ada mereka yang menganut agama Islam? Tentu ada. Sekarang mari kita balik ke masa lalu dan menulusuri jejak Islam di Jepang. 

Sebelum tahun 1900, hanya ada dua negara di Asia yang menikmati kemerdekaan penuh, yaitu Kekaisaran Ottoman di Turki dan Kekaisaran Jepang. Karena keduanya berada di bawah tekanan negara-negara Barat, mereka memutuskan untuk membangun hubungan persahabatan dan mulai bertukar kunjungan. 

Sultan Abdul Hamid II, yang memerintah Turki di era 1876-1909, mengutus laksamana Uthman Pasha untuk melakukan kunjungan resmi ke Jepang pada tahun 1890. Setelah Uthman Pasha selesai mengadakan pertemuan dengan Kaisar Jepang, dia dan enam ratus anak buahnya bersiap untuk pulang, meskipun saat itu cuaca sedang tidak bersahabat. Belum jauh kapal Al Togrul berlayar, badai besar menghantamnya sehingga menyebabkan lebih dari 550 awak kapal meninggal termasuk sang kapten. 




Layaknya sahabat yang baik, pihak Jepang lalu mengirim dua kapal untuk membawa para korban yang selamat untuk pulang ke Istanbul. Seorang wartawan muda Jepang yang bernama Shotaro Noda (ada yang menyebutnya Torajiro Yamada) juga ikut dalam perjalanan itu. Dia adalah orang yang telah mengumpulkan uang sumbangan dari warga Jepang untuk diberikan kepada keluarga korban yang meninggal. 

Setelah sampai di Istanbul dan menyerahkan uang sumbangan, Shotaro sempat bertemu langsung dengan Sultan Abdul Hamid yang kemudian memintanya untuk tinggal di Istanbul dan mengajarkan bahasa Jepang ke para pejabatnya. Tanpa berpikir panjang, Shotaro pun setuju. Selama tinggal di Istanbul, dia berkenalan dengan Abdullah Guillaume, seorang muslim yang berasal dari Liverpool, Inggris. Dia-lah orang yang memperkenalkan Shotaro kepada Islam. 

Akhirnya Shotaro-pun memeluk agama Islam dan memilih untuk diberi nama Abdul Halim Noda (ada yang menyebutnya Abdul Khalil), yang diyakini dunia sebagai orang Jepang pertama yang beragama Islam. 

Saat ini jumlah muslim di Jepang diperkirakan sebanyak 70.000 orang. Sekitar 90%-nya adalah orang asing yang datang dan bekerja di Jepang. Mereka berasal dari Indonesia, Pakistan, Iran, Bangladesh dan negara lainnya. Lalu sisanya 10% adalah orang Jepang asli. 

Tidak gampang menjadi seorang muslim di Jepang. Mereka selalu mendapatkan rintangan dan cobaan dalam menjalani kewajiban mereka. Persoalan yang paling sering muncul, tak lain dan tak bukan, adalah persoalan makanan; dimana mereka bisa mendapatkan makanan yang halal? 

Ya, memang tidak mudah mencari restoran yang bisa dinikmati orang muslim dengan tenang. Bersyukurlah bagi mereka yang tinggal dekat dengan restoran halal, tapi bagaimana dengan yang lain? Alhasil, mereka memasak makanan mereka sendiri atau beli makanan instan di minimarket terdekat. Bisa juga makan makanan cepat saji di McDonald's atau Kentucky Fried Chicken, asal tidak setiap hari. 

Sejarah Masuknya Agama Kristen di Jepang

Kekristenan pertama sekali diperkenalkan oleh misionaris Yesuit Spanyol yang bernama Franciscus Xaverius. Ia tiba pada tanggal 15 Agustus 1549 bersama dua orang misionaris Yesuit lainnya (Jpg: Iezusu Kai) dan seorang Jepang yang bernama Anjiro yang bertugas sebagai penerjemah untuknya (bertemu dengannya di Malaka pada tahun 1547). Xaverius sampai di Kagoshima di pulau Kyushu atas izin dari Daimyo Satsuma yang bernama Shimazu. Dia menginjili dan menyusun sebuah katekhismus kecil. Hasilnya ia mampu men-tobat-kan sekitar 100 orang menjadi Kristen.

Berdasarkan catatan Nippon Seikyo-shi (Sejarah Agama Barat di Jepang), Franciscus Xaverius dalam penginjilannya juga merawat orang-orang sakit (akan tetapi terbatas pada perawatan). Selama tinggal di Jepang beberapa tahun (dia meninggalkan Jepang ke India di akhir 1551) di kelihatannya memiliki motto “Sewaktu di Roma bertindaklah seperti yang dilakukan oleh penduduk Roma”. Sebagai akibatnya demi mengikuti selera penduduk Jepang, ia memasukkan sejumlah unsur Buddhisme dan Shinto yang masuk dalam ibadah Kristen. Oleh karena Xaverius memahami bahwa Buddhisme Jepang adalah sekte monoteis (dewanya disebut sebagai Danichi), Xavier kemudian pergi memberitakan bahwa Danichi adalah Allah Kristen. Hal ini malah membingungkan masyarakat. Mereka menganggap bahwa kekristenan hanyalah salah satu sekte agama Buddha. Setelah mengetahui hal ini, dia kemudian turun ke jalan menentang orang-orang Buddha. Akan tetapi hal ini malah berakibat lain yang tidak diharapkannya. Permasalahan yang lebih parah terlihat ketika ia harus menghadapi sejumlah dosa yang dilihatnya dalam budaya Jepang. Salah satu dosanya adalah masalah sodomi.



Setelah Yesuit masuk, keadaan politis Jepang yang terpisah-pisah memberi kesempatan penyebaran agama ke berbagai daerah, secara khusus di Kyushu dimana Daimyo Kristen seperti Omura Sumitada dibaptis menjadi Kristen. Dalam hubungan dengan pekerjaan misionaris Yesuit yang secara politis sensitif, ordo Fransiskan mengadopsi sebuah pendekatan penginjilan yang lebih agresif. Akan tetapi kelihatannya ordo Yesuit dan ordo Franciscan tidak menjalin kerjasama yang baik. Mereka masing-masing membawa kepentingannya sendiri. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh latar belakang negaranya masing-masing. Ordo Yesuit berasal dari Portugis dan ordo Fransiskan dari Spanyol. Sehingga oleh karena begitu pentingnya perdagangan, menyebabkan timbulnya dua kelompok di dalam kekristenan Jepang. Yesuit melihat derajatnya lebih tinggi dari pada Fransiskan. Mereka hidup diantara kaum Daimyo dan memfokuskan perhatiannya pada golongan atas masyarakat, penguasa kelompok samurai. Sementara di lain pihak, Fransiskan dengan rendah hati dan kehidupan yang sederhana berusaha untuk mengusahakan pertobatan diantara golongan yang lebih rendah. Pada dasarnya hal ini membawa kehancuran pada keduanya.

Berbagai masalah lain juga muncul yang mengakibatkan terhalangnya perkembangan kekristenan ke dalam masyarakat Jepang. Penghalang utama terdapat pada masalah keuangan dan kesalahpahaman etnis. Gereja tidak pernah secara penuh mendukung misi yang dilakukan oleh ordo Yesuit. Sehingga oleh karenanya mereka harus berusaha untuk menjalankan misi atas dasar usaha mereka secara mandiri. Dengan keadaan yang demikian ketika Valignano datang ke Jepang pada tahun 1579, ia menyadari bahwa misi akan sangat berkembang dengan mengirim sejumlah orang Kristen Jepang ke Roma. Selain untuk memperkenalkan Eropa kepada orang-orang Jepang dengan membawa empat orang anak-anak, ia ingin menunjukkan bagaimana hasil pekerjaan Ordo Yesuit (yang bekerja di Asia Timur) akan mengatasi berbagai kerugian yang ditimbulkan oleh Reformasi. Melaluinya Ia juga berharap agar paus mendukung monopoli Yesuit atas Jepang dan memberikan bantuan bagi mereka.

Disamping usaha yang demikian, kaum Yesuit juga terpaksa bergabung dengan sejumlah usaha perdagangan. Akan tetapi usaha mereka ini justru menimbulkan kecurigaan pemerintah. Ordo Yesuit tidak pernah hadir secara aktif untuk menjalankan gereja dan menyebarkan ajarannya. Mereka tidak mengajari penduduk yang telah menjadi Kristen untuk turut serta memberitakan Injil. Hal ini tidak mereka lakukan karena rasa tidak percaya terhadap orang-orang Jepang. Dengan keadaan yang demikian, maka hal ini menyebabkan dua hal, pertama jumlah mereka tidak bertambah banyak, dan kedua hal itu menimbulkan kebencian orang-orang Jepang yang telah dibaptis.

Kaum Yesuit pada ketika itu, bagaimanapun juga terlibat dalam dunia politik. Mereka berusaha untuk mempengaruhi dunia perdagangan untuk keuntungan mereka sendiri, dan bahkan berniat untuk memiliki kekuasaan di sana. Hal yang paling nyata adalah pengambil-alihan Nagasaki. Akan tetapi mereka tidak berkuasa disana lama-lama karena Hideyoshi memergoki mereka saat melakukan kegiatannya di Nagasaki. Contoh lain adalah pendekatan Yesuit pada kaisar untuk memperoleh kuasa untuk melawan Hindeyoshi. Semua tindakan ini dianggap subversif pada bakufu (pemerintah Jepang). Dan memang demikianlah kenyataannya. Ketika pada akhirnya Tokugawa menyatukan Jepang, satu dari tindakan utamanya adalah untuk mengusir orang-orang Kristen.

Selain apa yang telah disebutkan di atas, oleh karena masyarakat Jepang ketika itu terdesentralisasi, menyebabkan ordo Yesuit berada dalam posisi yang menguntungkan dan juga sekaligus merugikan. Disatu sisi mereka harus memusatkan perhatiannya pada para daimyo yang tentunya tidak praktis. Akan tetapi di sisi lain ini juga menguntungkan. Sebab mereka dapat berpindah dan mendapat perlindungan dari daimyo yang telah mereka injili ketika ada daimyo yang menolak mereka. Namun hal ini tidak berlangsung lama sejak Tokugawa menyatukan Jepang. Melalui kedudukannya ia dapat menelurkan satu keputusan untuk melakukan perlawanan dengan edik-ediknya.

Pertobatan para Daimyo

Daimyo Kristen juga turut secara aktif membantu misionaris Yesuit untuk mengusahakan pertobatan di daerahnya. Kadang melalui paksaan, intimidasi dan pengrusakan simbol-simbol religius penduduk setempat dan juga pengrusakan institusi-institusinya. Akan tetapi disamping usaha untuk menginjili, mereka juga harus tetap bertahan ketika Hideyoshi memberlakukan penutupan kekristenan di Jepang tahun 1578. Mereka bahkan sampai menghilang ketika rezim Tokugawa mulai melakukan pengejaran dan pembantaian terhadap agama Kristen.

Secara umum motivasi pertobatan mereka ada bermacam-macam. Omura Sumitada (Don Batholomeo) penguasa daerah Sonogi di provinsi Hizen (sekarang bagian dari Nagasaki) tertarik menjadi Kristen tahun 1563 setelah Yesuit berjanji untuk menjamin bahwa kapal dagang Portugis akan datang ke daerah kekuasaannya. Dia kemudian memberikan daerah Nagasaki pada Yesuit tahun 1580. Otomo Sorin pemimpin di provinsi Bungo (sekarang bagian dari Oita) adalah penguasa Kyushu. Ia dibaptis pada tahun 1578 setelah sebelumnya berteman selama kurang lebih 27 tahun dengan para misionaris Yesuit. Sejumlah Daimyo menjadi Kristen melalui pengaruh pertemanan. Sebagai contoh Takayama Ukon (Don Justo) dibaptis tahun 1564 atas pengaruh Gamo Ujisato (Don Leao) dan Ijisato membantu Ukoto untuk meyakinkan Kuroda Yoshitaka (Don Simeao). Tetapi para daimyo Kristen tidak pernah mengusahakan sebuah gerakan kesatuan, loyalitas iman ordo Yesuit telah salah sasaran. Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi mereka daripada kepentingan perkembangan gereja. Mereka masih mengutamakan statusnya sebagai daimyo daripada iman kristennya.

Pergumulan yang Dihadapi oleh Misionaris di Jepang

Masa Pemerintahan Toyotomi Hideyoshi

Oda Nobunaga, selama rezimnya sebagai pemimpin militer di Jepang di tahun 1570an dan 1580an bertemu dengan usaha penginjilan yang dilakukan oleh Katolik. Harapannya untuk bersaing dengan saingannya yang beragama Buddha mendorongnya untuk membiarkan aktivitas misionaris Katolik di Jepang. Di Kyoto, ibukota Jepang selama abad ke-17, sejumlah orang telah dibabptiskan menjadi Kristen. Akan tetapi ketika kekuasaan beralih pada Toyotomi Hideyoshi (yang memimpin Jepang sejak tahun 1582 sampai 1598), sikap anti Eropa mulai muncul.

Pertama sekali Toyotomi Hideyoshi (dikenal sebagai Taikosuma) yang tinggal di Puri Osaka tidak terlalu ambil pusing dengan keberadaan misionaris Kristen. Akan tetapi masalah mulai muncul ketika kepulangannya dari Kyushu. Sebelumnya dia mengumumkan sebuah peringatan di Hakata (sekarang Fukuoka) pada tanggal 23 Juli 1587 untuk menentang penginjilan yang dilakukan melalui pemaksaan. Esok harinya ia mengeluarkan dekrit bahwa misionaris Yesuit (bateren) harus meninggalkan Jepang dalam 20 hari. Meskipun dalam masa itu sejumlah gereja dihancurkan, tidak ada misionaris yang meninggalkan Jepang secara permanen.

Masalah semakin runyam ketika pada tanggal 26 Agustus 1596 kapal perang San Felipe (Spanyol) berlayar dari Manila ke Acapulco dan menyandar ke pantai Shukoku di sebelah tenggara kepulauan Jepang. Kapal tersebut berlabuh di pantai Urado di prefektur Tosa yang sekarang dikenal sebagai Kochi. Kapal-kapal mereka yang dilengkapi dengan persenjataan menimbulkan keraguan dan menyebabkan Hideyoshi kehilangan kepercayaan atas Eropa. Hal ini dikarenakan ia mengetahui bahwa Philippina baru ditaklukkan oleh Spanyol. Hideyoshi yakin bahwa mereka tidak boleh dipercaya. Hal ini kemudian segera menimbulkan pertanyaan di kalangan penguasa Jepang. Barang muatannya diambil alih oleh shogun Hideyoshi untuk menghindari kemungkinan usaha Spanyol untuk menguasai Jepang.

Akan tetapi tidak cukup sampai di situ, untuk dalam usaha untuk segera menyelesaikan persoalan keamanan nasional tersebut ordo Fransiskan kemudian dituduh sebagai mata-mata Spanyol. Fransiskan menyangkal bahwa cerita itu tidak benar dan menekankan bahwa hal itu adalah kebohongan yang dibuat oleh ordo Yesuit untuk menyingkirkan mereka. Pada akhirnya setelah peristiwa ini Hideyoshi memperbaharui lagi dekritnya atas misionaris Kristen. Dengan dekrit ini terbunuhlah 26 martir pada tanggal 5 Februari 1597. Toyotomi Hideyoshi memerintahkan Terazawa Hazaburo (saudara dari gubernur Nagasaki) membunuh mereka di bukit Nishizaka. Para tahanan dipaksa untuk melakukan perjalanan panjang selama musim dingin dari prefektur Tosa (Shikoku) ke Nagasaki (Kyushu) dimana mereka akan dibantai di depan umum. Bagi Terazawa sendiri, hal ini sangat berat mengingat bahwa salah satu misionaris yang akan dieksekusi adalah teman karibnya, yakni Paul Miki. Dua misionaris Yesuit lainnya yang bernama Pasuo dan Rodriguez disuruh untuk memimpin ibadah eksekusi mereka. Jika diperinci, terdapat 9 orang misionaris dan 17 orang Jepang (yang sudah menjadi Kristen) yang dibunuh ketika itu.

Hal-hal penting dari Edik yang dikeluarkan pada tahun 1635 yakni:

1. Orang-orang Jepang dibatasi oleh pemerintah sendiri. Sejumlah aturan ditentukan untuk mencegah mereka meninggalkan Jepang. Dan jika ada hal-hal demikian yang terjadi, mereka akan dihukum mati. Orang-orang Eropa yang masuk ke Jepang secara ilegal juga akan menghadapi hukuman mati.
2. Katolisisme berusaha dihancurkan. Orang-orang yang ditemukan mengikuti iman Kristen akan di interogasi dan setiap orang yang menjalin hubungan dengan Katolisisme akan dihukum. Untuk menemukan orang-orang yang masih menjadi Kristen, penduduk diiming-imingi hadiah bagi orang-orang yang menemukannya. Tindakan pencegahan atas aktivitas misionaris juga ditekankan melalui edik tersebut; tidak ada misionaris yang diizinkan masuk, dan jika ditemukan mereka akan dihukum.
3. Penutupan hubungan perdagangan dan membatasi barang-barang perdagangan ditetapkan untuk membatasi pelabuhan-pelabuhan yang terbuka untuk perdagangan bagi pedagang yang telah diizinkan masuk. Hubungan dengan Portugis ditutup secara keseluruhan; pedagang-pedagang Cina dan VOC dibatasi untuk hanya berdagang di Nagasaki.

Masa Pemerintahan Tokugawa Ieyesu

Pada tahun 1608, hubungan diplomatis antara Holland (Belanda) dengan Jepang dimulai. Kebijakan Jepang ketika itu selain untuk membatasi pekerjaan misionaris Kristen juga untuk memajukan perdagangan. Spanyol dan Portugis dipaksa untuk meninggalkan pelabuhan masuk mereka (Dejima) di Nagasaki, karena mereka menyiarkan kekristenan di balik pelayanan kesehatan dan juga mereka diisukan sedang berusaha untuk menguasai Jepang.

Perlu dicatat bahwa Tokugawa Ieyasu yang berkuasa pada tahun 1600 pada mulanya masih berniat untuk bersikap toleran terhadap kehadiran para misionaris. Hal ini disebabkan dia mengharapkan sejumlah keuntungan melalui perdagangan yang dijalin dengan Portugis. Akan tetapi kedatangan kaum protestan Belanda dan para pedagang Inggris membuat dia bersikap lebih bebas untuk tidak bergantung pada pedagang Portugis. Akhirnya ia beralih haluan mengikuti pendahulunya menentang kekristenan. Pada tahun 1614 kemudian Tokugawa memerintaha para misionaris untuk meninggalkan Jepang, kebanyakan dari mereka diusir akan tetapi 40 diantaranya, termasuk penginjil keturunan Jepang tetap tinggal untuk melanjutkan pekerjaan mereka di bawah tanah.

Pada tahun 1612, Tokugawa Ieyesu menunjukkan arah anti Kristen setelah insiden yang terjadi di Madre de Deus. Alasan Keshogunan Tokugawa membuat kebijakan anti-kristen tampak secara kompleks dalam ‘Pengusiran terhadap Bateren’ yang disusun oleh Biksu Zen yang bernama Konchin Suden di Iegasu pada tanggal 1 Februari 1614.20 Kemudian Tokugawa Iemitsu mengeluarkan Edik Sakoku pada tahun 1635, yang merupakan edik ketiga yang dikeluarkan sejak tahun 1623 sampai tahun 1651. Dengan munculnya edik ini, ditutuplah Jepang atas hubungan dengan dunia luar. Ini adalah salah satu dari banyak keputusan yang ditulis oleh Iemitsu untuk menghilangkan pengaruh Katolik, dan memaksakan aturan pemerintah. Edik ini ditulis pada dua pemimpin di Nagasaki, sebuah kota pelabuhan yang terletak di sebelah utara Jepang. Alasan utama yang kemudian membuat Jepang menutup hubungan mereka secara penuh adalah perhatian pemerintah untuk menerapkan kendali penuh atas rakyatnya. Hal ini tidak akan mungkin terjadi jika ada interfensi dari agama Kristen yang pada saat itu sangat aggresif dan tidak toleran terhadap masalah yang ada. Sebagai dampak dari keluarnya edik ini maka selama periode penyiksaan Iemetsu di tahun 1622, 51 orang Kristen dibunuh di Nagasaki. Dan dua tahun kemudian 50 orang dibakar hidup-hidup di Edo (sekarang Tokyo). Totalnya sebenarnya ada 3000 orang yang telah menjadi martir, jumlah ini belum termasuk pada orang-orang yang mati karena penderitaan yang mereka alami di penjara. Dan pada tahun 1633 sebanyak 30 misionaris dibunuh dan pada tahun 1637 hanya 5 orang yang dapat hidup bebas.

Pada masa Restorasi Meiji

Selama 250 tahun pintu Jepang ditutup (sejak keluarnya edik Sakoku) sampai pada waktu Commodore Perry membawa empat kepal perang ke Shimoda pada tanggal 8 Juli 1853. Enam tahun kemudian westernisasi berlanjut dengan kedatangan 7 misionaris Protestan. Akan tetapi ternyata hal ini tidak langsung berdampak baik pada kekristenan. Pada awal restorasi yang dilakukan oleh Meiji pada tahun 1867, kebijakan anti-Kristen masih berlaku. Sayangnya pada waktu itu, golongan Kristen bawah tanah yang selama ini bertahan dalam masa pengejaran dan pembantaian telah sempat ditemukan di Nagasaki. Mereka yang bertahan yang disebut sebagai Kakure Kiristan ditemukan selama empat kali sejak 1790 sampai 1865. Mereka kemudian dibantai dan kejadian ini dikenal sebagai Urakami Kazure. Pembantaian ini lebih hebat dan lebih besar daripada pembantaian yang telah pernah terjadi di jaman Tokugawa. Pada ketika ini dibunuh 3.384 orang yang masih tetap bertahan dalam kekristenan. Akan tetapi pembantaian ini berakhir setelah tahun 1873.

Penutup

Yang perlu dicatat dari orang-orang Jepang adalah toleransi mereka atas keberagamaan. Semua tindakan-tindakan pembunuhan mereka terhadap kekristenan hanyalah diakibatkan oleh masalah sosial dan politik. Eksklusifisme kekristenan dengan sikapnya yang tidak toleran terhadap agama lain menimbulkan berbagai implikasi. Misionaris oleh karenanya dipandang sebagai katalis untuk kolonialisme Barat atas Jepang. Dasar yang lebih nyata adalah kekristenan dipandang sebagai penyebab tidak berfungsinya elemen-elemen masyarakat yang tentunya akan melemahkan kekuasaan mereka. Akhirnya, penekanan Kristen atas kesadaran individual dipandang sebagai subversif dalam masyarakat yang sungguh penting bersatu atas pengabdian tak bersyarat pada penguasa.

Dalam pandangan yang lebih populer, kekristenan masih dipandang sebagai ‘asing’. Para misionaris mengkotbahkan hal-hal yang baik akan tetapi tidak cocok bagi kebudayaan Jepang. Oleh karena hakikatnya yang ‘asing’ itu, agama tersebut dibantai ketika pemerintah harus menyatukan penduduk di bawah kesatuan nasional yang kuat (oleh Tokugawa).

Sejumlah aspek pengajaran Kristen yang secara mendalam sangat berbeda dengan pola pemikiran tradisional Jepang dan penampilannya sebagai contoh adalah monoteisme lawan politeisme; konsep Allah yang transenden melawan imanensi dewa-dewa Jepang; dan etika individual lawan etika yang berpusat pada kelompok. Tidak dapat dibantah bahwa kekristenan yang terorganisir dapat mengambil tempat sebagaimana yang diterima oleh Buddha (yang juga adalah agama impor). Dengan keadaan yang demikian dapat kita lihat bahwa keshogunan pada masa penginjilan di Jepang sangat ditakutkan oleh anggapan mereka yang melihat kekristenan sebagai jalan bagi negara asing untuk menaklukkan Jepang. Disamping itu ajaran Kristen mengenai kebebasan individual dan etika bertentangan dengan kehendak keshogunan yang mengharapkan pengabdian mutlak penduduk atas kekuasaannya. Sebagai akibatnya, sekitar 280.000 orang telah disiksa dan 3000-6000 orang dibunuh.

Ada dua sebab yang menyebabkan keluarnya edik perlawanan terhadap kekristenan. Pertama adalah bersifat ideologis dan kedua adalah masalah politik praktis. Kekristenan menawarkan bentuk alternatif yakni suatu otoritas mandiri individu di luar tradisi Jepang dan bakufu. Ini tidak dapat diterima oleh penguasa Jepang. Rezim mereka membutuhkan loyalitas penuh dari masing-masing penduduknya. Penganut agama Buddha dibiarkan adalah karena agama Buddha telah diterima sebagai agama Jepang, dengan melihat kenyataan bahwa dia sudah ada sejak lama. Akan tetapi disamping itu selain karena memang pada saat itu agama Buddaha sangat lemah, ada juga pendapat bahwa Hideyoshi memandang penganut agama Buddha dapat dihancurkan dengan memanfaatkan tindakan-tindakan penindasan yang dilakukan oleh institusi keagamaannya. Oleh karena itu dia dapat memperalat institusi agama Buddha untuk
kehancurannya sendiri.

Dari apa yang telah diuraikan tampaklah bagi kita bahwa ternyata pada dasarnya usaha penginjilan tidak mencapai hasil yang diharapkan. Pada kebalikannya justru karena metode yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya dan dikarenakan oleh berbagai faktor, kekristenan justru malah menjadi ‘bulan-bulanan’ pemerintah Jepang. Dalam hal ini, persoalan signifikan yang dapat kita lihat adalah bahwa usaha penginjilan gagal menyentuh lapisan paling atas masyarakat di Jepang ketika itu.

Usaha pendekatan yang dilakukan oleh misionaris Yesuit pada pihak penguasa lokal (daimyo) juga tidak memberikan dampak yang berarti bagi perkembangan kekristenan. Pada keadaan yang terlihat diatas, para daimyo justru tidak sepenuhnya memahami arti menjadi Kristen. Mereka tidak menyadari akan pentingnya penyebaran injil ke lapisan atas masyarakat. Adapun usaha yang mereka lakukan masihlah bersifat pemaksaan dan tidak berdasarkan pertobatan yang sungguh.

Sebagai tambahan, penyebab gagalnya penginjilan yang dilakukan oleh pihak misionaris ke lingkungan istana adalah karena keadaan politik pemerintahan ketika itu tidak mendukung akan kemungkinan terjadinya komunikasi yang baik dengan kaisar. Hal ini dikarenakan ketika itu, Jepang masuk pada periode keshogunan dimana kaisar diperlakukan hanya sebagai simbol dari Jepang itu sendiri. Pemerintahan secara penuh diatur oleh shogun yang dapat dikatakan sebagai perdana menteri. Hal ini mau tidak mau menyebabkan terjadinya kemandekan usaha penginjilan di lingkungan atas.

Hal yang lebih penting lagi, yang menyebabkan tidak tersentuhnya lapisan atas adalah karena
besarnya rasa nasionalisme Jepang terhadap negaranya. Kemungkinan besar ini disebabkan oleh pengaruh agama mereka yang mengatakan bahwa dengan kecintaan dan pengabdian kepada kaisarlah (negara) maka rakyat akan memperoleh keselamatan. Hal ini dikarenakan pada saat itu Shintoisme menekankan bahwa kaisar merupakan perwujudan dari dewa berfungsi untuk menyelamatkan manusia. Dengan keadaan nasionalisme yang kuat ini, oleh karena kekristenan telah terlebih dahulu memperoleh image yang buruk (melalui peristiwa kapal San Felipe) maka pihak shogun sendiri mulai antipati terhadap kekristenan. Sehingga oleh karena mereka dianggap sebagai mata-mata asing, maka tidak dapat dihindarkan bahwa shogun pun tidak dapat disentuh oleh usaha penginjilan.