This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Thursday, 26 March 2015

4 Penyakit Sosial Otaku Ini Mewabah di Indonesia!

Sebuah poling dilakukan terhadap 1159 pengguna internet Indonesia, lebih dari 40% dari mereka ternyata terjangkit penyakit sosial otaku! Apakah kamu termasuk di dalamnya?

 

 

Kamu pasti tidak asing lagi dengan istilah otaku. Otaku dalam bahasa Jepang bisa diartikan sebagai seseorang yang memiliki ketertarikan terhadap sesuatu, kebanyakan terhadap anime dan manga. Sementara di Indonesia sendiri, otaku dipersempit hanya dengan individu yang tertarik pada anime dan manga. Nah, otaku ini, walau tidak semuanya, banyak sekali yang terlalu berlebihan mendedikasikan diri mereka terhadap hobi mereka sehingga terjangkit penyakit sosial.


Lantas, apa saja penyakit sosial otaku?

Penyakit sosial otaku ini ada empat, yaitu: Chuunibyou, Wibu, Nijikon, dan Hikikomori. Keempat penyakit sosial otaku ini adalah yang paling banyak kita temui di Indonesia. Sebuah poling dilakukan oleh seorang user Kaskus terhadap 1159 orang. Hasilnya? Lebih dari 40% atau sekitar 470 orang mengaku bahwa mereka terkena penyakit sosial otaku. Berikut ini detil hasil poling tersebut beserta dengan penjelasan setiap penyakit otaku yang mewabah di Indonesia.

 Chuunibyou – 188 votes (16%)

Peraih voting terbanyak dari empat penyakit sosial otaku yang ada. Chuunibyou secara kasar bisa diartikan sebagai ‘sindrom kelas 2 SMP’. Disebut sindrom kelas 2 SMP karena biasanya menjangkit anak-anak yang menginjak umur 14 tahun atau kelas 2 SMP.

Orang yang terjangkit chuunibyou ini biasanya memiliki tingkah laku sesuai dengan imajinasinya (misal: bisa melihat hantu, menggunakan penggaris kayu sebagai pedang, dan bisa mengeluarkan kamehameha). Dan mereka melakukannya karena mereka benar-benar percaya demikian. Biasanya penderita Chuunibyou akan sembuh begitu menginjak dewasa, tetapi dalam kasus tertentu, ada juga pasien Chuunibyou yang terjangkit hingga dewasa.

Tingkah orang yang terkena Chuunibyou ini terkadang menjengkelkan, tapi kalau kita lihat sisi positifnya, orang-orang yang penderita (atau setidaknya mantan penderita) Chuunibyou ini memiliki potensi yang bagus untuk bermain film/teater, lho! Mereka tidak perlu kursus akting lagi karena mereka sudah terbiasa melakukannya. Hehe.

Itulah tadi 4 penyakit sosial otaku yang mewabah di Indonesia. Perlu dicatat bahwa tidak semua otaku menderita penyakit sosial tersebut dan tidak semua otaku seaneh itu. Jadi, bagaimana pendapatmu soal penyakit sosial otaku ini? Atau, apakah kamu termasuk didalamnya?

Hikikomori – 149 votes (13%)

Peraih suara terbanyak kedua, Hikikomori. Penyakit sosial otaku yang satu ini bisa diartikan sebagai ‘menarik diri’ dari kehidupan sosial. Mungkin sebagian dari kamu akan berpikir bahwa Hikikomori sama dengan ansos, tetapi pada kenyataannya tidak –setidaknya tidak secara keseluruhan. Hikikomori cenderung penarikan diri secara ekstrim, mereka mengisolasi diri dalam kamar dalam jangka waktu yang sangat lama. Tipikalnya, pelaku Hikikomori tenggelam dalam tayangan televisi atau komputer di dalam kamar hingga hampir-hampir tidak pernah tidur. Perilaku ini dapat berujung pada gangguan psikologis seperti schizoprenia

Penyebab dari Hikikomori ini ada banyak, tetapi intinya hanya satu: rasa trauma yang hebat yang dialami penderita saat berada di masyarakat sosial.

Nijikon – 67 votes (6%)

Nijikon hanya menang satu suara dari wibu. Apa itu Nijikon? Nijikon bisa diartikan seseorang yang terobsesi dan jatuh cinta pada karakter dua dimensi atau karakter-karakter fiksi. Dalam bahasa sederhana: jones. Yah, biasanya gejala awal penyakit ini sering banget ngaku-ngaku bahwa suatu karakter anime itu adalah waifu-nya (atau husbando untuk para cewek).

Orang yang terjangkit Nijikon akan sangat mencintai karakter fiksi yang disukai, marah-marah jika ada karakter lain yang berani mendekatinya, dan biasanya pergi kemana-mana dengan karakter tersebut (biasanya dalam bentuk dakimakura). Dalam kasus ekstrim, ada penderita Nijikon yang sama sekali tidak tertarik dengan makhluk nyata dan bahkan sampai menikahi karakter fiksi yang dia cintai.
 
Tapi, dibalik semua antics Nijikon, ada sebuah hikmah positif yang bisa kita ambil dari penyakit sosial otaku yang satu ini, yaitu: saingan kita dalam mencari pasangan menjadi berkurang! Hehe.

Meskipun begitu, sepertinya lebih banyak negatifnya daripada positifnya, misalnya saja: bisa menghancurkan tatanan perekonomian global! (Ini beneran lho!)

 Wibu – 66 votes (6%)


Wibu jelas adalah seorang otaku. Akan tetapi otaku belum tentu adalah seorang wibu. Wibu berada pada tingkatan dimana seorang otaku mendedikasikan dirinya terlalu berlebihan terhadap hal-hal yang berbau Jepang. Dari empat penyakit sosial otaku yang ada, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Wibu adalah yang paling menjengkelkan. Kenapa? Karena orang yang disebut wibu adalah mereka yang mendewakan segala sesuatu tentang Jepang. Pokoknya segala sesuatu tentang Jepang menurut mereka is the best-lah! Jika ada yang berani sedikit saja mengkritik sesuatu tentang Jepang pasti mereka bakalan maju ke garis depan dan membelanya mati-matian.

Wibu di Indonesia bisa termasuk parah –pakai banget. Kita pernah membahas dalam artikel sebelumnya tentang potret wibu di Indonesia. Mereka menganggap kehidupan dunia nyata itu membosankan, hidup sebagai seorang hikikomori dan NEET itu keren, dan nggak bakalan rela kalau ada yang bilang Anime adalah kartun. Well, dalam beberapa kasus ekstrim, malah mereka nggak mengakui bahwa pantsu adalah celana dalam dan jitensha adalah sepeda. Hello…? Padahal sebenarnya juga sama saja –cuma beda bahasa.

sumber : duniaku.net



Saturday, 7 March 2015

Apakah Saya Depresi? Kenali Tanda-tandanya

Memahami tentang kesehatan mental seringkali disebut tidak semudah memahami masalah kesehatan fisik, karena ciri yang tidak kasat mata, seperti bekas luka atau tekanan darah tinggi yang bisa menjadi penanda suatu penyakit pada pemeriksaan kesehatan fisik.  Depresi, misalnya, terkadang tidak disadari kemunculannya, bahkan oleh orang yang mengalami, karena orang tidak mengenali ciri-ciri depresi yang dialaminya.




Depresi dapat diartikan sebagai sebuah kondisi gangguan psikologis dengan ciri adanya perasaan sedih atau kekosongan mendalam. Orang yang depresi biasanya merasa bahwa mereka seolah masuk ke dalam lubang yang dalam, gelap, dan sulit untuk keluar dari sana.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-V (DSM-V), diagnosis depresi dapat diberikan (hanya melalui pemeriksaan oleh profesional, seperti psikolog/ psikiater!) jika terjadi kemunculan atas setidaknya 5 gejala dari set gejala berikut selama dua minggu berturut-turut:

- Merasa tertekan (sedih, kosong)
- Kehilangan minat beraktivitas
- Nafsu makan/ berat badan terganggu
- Masalah tidur
- Gangguan psikomotorik
- Merasa lelah atau tidak berenergi
- Merasa tidak berharga/ bersalah
- Sulit berpikir/ konsentrasi/ mengambil keputusan
- Berpikir tentang kematian atau mencoba bunuh diri.

Kemunculan gejala-gejala tersebut biasanya mengganggu fungsi harian dan menurunkan produktivitas orang yang mengalaminya. Keparahan tingkat depresi dapat ditentukan oleh jumlah gejala yang muncul dan intensitasnya.

Penelitian mengenai depresi menunjukkan bahwa setiap orang dapat mengalami depresi pada setidaknya satu masa dalam hidupnya. Pada dasarnya, depresi dapat muncul sebagai manifestasi dari perasaan tertekan mendalam yang dialami seseorang, karena masalah-masalah sehari-hari, perasaan kesepian, dan alasan-alasan lain yang sangat manusiawi. Jadi, mengalami depresi adalah hal yang wajar, bukan sesuatu yang aneh, apalagi memalukan.

Bisa dikendalikan

Kabar baiknya, jika dapat dikenali dan ditangani dengan semestinya, depresi dapat dikendalikan sehingga tidak akan mematikan fungsi keseharian orang yang mengalaminya. Mudahnya, coba bayangkan seseorang yang mengalami flu. Ia sadar bahwa ia flu karena ia beringus dan tenggorokannya sakit. Ia pun mencoba menangani flunya sendiri, misalnya dengan lebih banyak minum air putih dari biasanya, banyak makan buah dan sayur untuk menambah asupan vitamin, dan berangkat tidur lebih cepat di malam hari.

Pendekatan yang sama sebetulnya dapat diterapkan pada masalah kesehatan mental seperti depresi. Langkah pertamanya perlu dimulai dari belajar mengenali gejala depresi diri sendiri, sehingga tahu kapan perlu bertindak untuk melakukan langkah-langkah penanganan yang diperlukan!

Walau secara umum depresi ditunjukkan oleh sekelompok gejala tertentu, namun gejala depresi yang menonjol dapat muncul berbeda pada tiap orang. Ada yang misalnya lebih dikuasai oleh gejala perasaan dan pikiran, seperti sedih berkepanjangan dan berpikir negatif tentang diri sendiri terus-menerus, atau gejala fisik dan perilaku, seperti sulit tidur dan tidak bisa beraktivitas karena merasa lelah sepanjang waktu.

Mengamati ciri awal depresi yang khas pada diri sendiri adalah hal yang penting. Kapanpun gejala awal tersebut muncul, maka seseorang akan dapat langsung mengambil langkah untuk menanganinya. Semakin cepat ditangani tentu semakin baik, bukan?

Nah, sekarang, bagaimana cara menanganinya? Sebelum mulai di bagian ini, perlu diingat bahwa penanganan depresi, terutama yang bersifat kronis, tentu paling disarankan untuk dikonsultasikan dengan profesional, seperti psikolog atau psikiater. Namun, ada juga cara-cara sederhana yang dapat dilakukan oleh orang yang mengalami depresi itu sendiri untuk mengelola gejala depresinya.

Mari kembali sejenak pada contoh flu yang telah dibahas sebelumnya. Dokter dapat memberikan saran medis untuk mengatasi flu, dan memberikan obat jika diperlukan, namun menambah jam istirahat dan menambah porsi buah sebagai asupan vitamin adalah cara ampuh menangani flu yang dapat dilakukan sendiri dan atas kesadaran sendiri pula.

Pada konteks depresi, penanganan mandiri yang dapat dilakukan antara lain menjalankan hobi secara rutin, berolahraga untuk mengelola kondisi fisik dan menenangkan pikiran, melakukan kegiatan yang menyenangkan setidaknya satu kali setiap hari atau ketika gejala depresi muncul, dan bercerita kepada orang yang dapat dipercaya untuk menumpahkan perasaan.

Cara-cara tersebut dapat  menjadi jurus yang sederhana namun ampuh untuk  mengelola depresi, karena, ingatlah, pada dasarnya setiap orang mampu mengendalikan depresi, dan bukan sebaliknya, dikendalikan oleh depresi. Selamat mencoba!

sumber : kompas.com