This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Festival. Show all posts
Showing posts with label Festival. Show all posts

Wednesday, 13 February 2013

Suami di Jepang Merayakan Hari Sayang Istri





Pria Jepang pada umumnya dikenal kurang romantis dan pasif dalam mengekspresikan perasaannya terhadap pasangan. Menurut pengakuan salah satu wanita Jepang bernama Misue, seperti yang dikutip The Japanese Time, pria Jepang diakui memang tidak terlalu memahami masalah percintaan.

Namun anggapan tersebut terbantahkan ketika puluhan pria Jepang berkumpul pada 31 Januari di Taman Tokyo untuk merayakan "Hari Sayang Istri". Di sini, mereka mengungkapkan perasaan mereka pada istri tercinta. 

Dari atas panggung, kata-kata sederhana namun bermakna disampaikan dengan cara berteriak. Salah Satunya disampaikan oleh seorang suami yang meneriakkan kata-kata, "
 "「私はあなたを永遠に愛します=aku akan mencintaimu selamanya" sambil menyantap bekal makan siang yang telah disiapkan oleh istri mereka.

"「私は最後の7年の間に重量を得る場合、私が申し訳ありません」Aku minta maaf jika berat badanku bertambah selama tujuh tahun terakhir," teriak seorang suami lainnya kepada istrinya, dilansir Reuters, Selasa, 29 Januari 2013.

"「しかし、それはあなたの料理する食べ物がとても美味しかったから」Tapi itu karena makanan yang kamu masak sangat enak," lanjut suami ini lagi.

Pria lainnya bahkan berlutut sambil memberikan sebuah karangan bunga kepada sang istri. Sang istri yang berada di kerumunan para penonton hanya bisa tertawa dan bertepuk tangan.

"Dia sangat tampan dan lebih jantan sekarang," ujar Yuko Todo, 33, mengomentari penampilan suaminya, Takeshi.

[Sumber]

Hari Valentine di Jepang


Jika pada perayaan Valentine para pria memberikan coklat kepada pasangannya sebagai ungkapan kasih sayang, namun di Jepang dan Korea justru kebalikannya. 


Di hari Valentine tersebut justru para wanita yang memberi hadiah berupa cokelat atau permen kepada para pria. Ada dua jenis cokelat yang di berikan sebagai hadiah yaitu 'honmei-choko' dan 'giri-choko'. 

Honmei-choko berarti "true love chocolate", diberikan pada pria yang menjadi pujaan hati wanita. Sedangkan giri-choko berarti 'obligation chocolate', yang diberikan pada teman-teman pria atu rekan kerja yang tak memiliki hubungan romansa. Di dua negara ini, Valentine diperingati dua kali yaitu 14 Februari dan 14 Maret. 

honmei-choko

Pada 14 Februari, para wanita biasanya akan memberi honmei-choko dan giri-choko kepada para pria pasangan mereka atau pujaan hati mereka. Biasanya cokelat yang diberikan tersebut merupakan hasil buatan sendiri untuk mengekspresikan perasaan dan keteguhan hati mereka kepada pasangan terkasih.

giri-choko

Selanjutnya pada tanggal 14 Maret merupakan waktunya bagi para pria untuk mengembalikan hadiah yang diberikan. Giri-choko bisa dikembalikan sesuai bentuk aslinya, namun honmei-choko harus dikembalikan dengan harga berkali-kali lipat dari aslinya. Biasanya para pria Jepang mengembalikan honmei-choko dalam bentuk perhiasan, lingerie, atau beberapa kado romantis lainnya.

Di Jepang tanggal 14 Maret dijuluki sebagai White Day, julukan ini terlahir oleh sebuah perusahaan marshmallow Jepang yang memperkenalkan tradisi pengembalian hadiah Valentine mulai tahun 1960-an. Di Korea, White Day dimanfaatkan oleh para pria untuk mengungkapkan perasaan pada wanita yang dicintainya.

Namun akhir-akhir ini, menurut sebuah artikel di surat kabar Jepnag, mulai muncul kebiasaan baru di hari Valentine. Setelah tahun 2000-an, semakin banyak perempuan yang tukar-menukar cokelat antara teman-teman dekat pada hari Valentine. Kebiasaan ini disebut sebagai "Tomo Choko (友チョコ: cokelat persahabatan)" yang berarti pertukaran cokelat sesama teman, dan sedang menjadi tren di antara para perempuan, terutama murid-murid SD, SMP, atau SMA.

Selain "Tomo Choko", masih ada istilah-istilah baru lagi, yaitu "Jibun Choko (自分チョコ: cokelat diri sendiri)" dan "Gyaku Choko (逆チョコ: cokelat kebalikan)". "Jibun Choko" berarti cokelat untuk dimakan sendiri pada hari Valentine. Coklat yang seperti ini biasanya dibeli oleh perempuan dewasa untuk menghibur diri sendiri. Lalu, "Gyaku Choko" berarti cokelat yang diberikan oleh LAKI-LAKI untuk menyatakan cinta. Ini disebut sebagai "Gyaku (kebalikan)" karena biasanya PEREMPUAN memberikan cokelat kepada laki-laki pada hari Valentine di Jepang.

[Berbagai Smber]

Monday, 11 February 2013

HARI KEDEWASAAN DI JEPANG (成人の日 Seijin no hi)


Di Jepang terdapat upacara Hari Kedewasaan (成人の日) atau yang kerap disapa Seijin no Hi yang merupakan hari libur resmi di Jepang yang jatuh pada hari Senin minggu kedua di bulan Januari. Menurut undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō), hari libur ini dimaksudkan untuk "merayakan generasi muda yang bisa hidup mandiri, dan menyadari telah menjadi dewasa." 



Upacara Seijin shiki diadakan pemerintah lokal di kota-kota dan desa-desa untuk meresmikan penduduk yang telah atau segera genap berusia 20 tahun, usia orang telah dianggap dewasa menurut hukum untuk boleh merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, dan mengikuti pemilihan umum. Di kota-kota kecil dan desa-desa, penyelenggaraan upacara sering dimajukan di hari-hari awal Tahun Baru untuk memudahkan peserta yang terdaftar di di daerah asal dan kebetulan sedang berada di kampung halaman. Jika hari penyelenggaraan upacara tidak dimajukan, peserta yang tinggal di kota harus kembali lagi ke kampung halaman untuk mengikuti Seijin shiki



Peserta upacara adalah penduduk yang merayakan ulang tahun ke-20 sehari sesudah upacara tahun lalu hingga hari upacara dilangsungkan. Selain itu, sebagian pemerintah lokal juga mengundang penduduk yang berulang tahun ke-20 pada tanggal 2 April tahun yang lalu hingga 1 April tahun berjalan (mengikuti sistem perhitungan umur yang digunakan sekolah-sekolah di Jepang).

Di hari-hari penyelenggaraan Seijin shiki bisa ditemui pemandangan wanita muda peserta Seijin shiki mengenakan kimono resmi jenis Furisode dengan rias wajah dan tata rambut hasil salon, sedangkan laki-laki mengenakan setelan kimono model Hakama. Wanita yang tidak ingin direpotkan dengan kimono bisa mengenakan gaun resmi dan pria mengenakan setelan jas.



Pada sebagian kecil kasus, peserta upacara kadangkala memilih untuk tidak memasuki arena Seijin shiki dan malah bergerombol di luar dengan sesama peserta atau bekas teman-teman sekelas bagaikan acara reuni. Di beberapa kota, peserta pria menunggu di luar tempat upacara sambil bermabuk-mabukan hingga menimbulkan keributan


Perayaan ini berasal dari upacara keagamaan Shinto, yang disebut Genpuku. Pada Upacara Genpuku, anak laki-laki berusia 10 - 16 tahun yang berasal dari Keluarga Samurai menerima Eboshi (sejenis ikat kepala) sebagai nama resmi yang menandakan kedewasaan mereka. Versi lain dari Genpuku adalah Kanrei, yaitu dimana anak laki-laki yang berasal dari Keluarga Kerajaan mendapatkan Fundoshi (kain cawat yang digunakan pe-Sumo sekarang) sebagai tanda kedewasaan mereka. 

Zaman dahulu, anak perempuan di Jepang yang berusia 12 - 16 tahun sudah dikatakan dewasa dan bisa menikah. Upacara kedewasaan untuk perempuan pada waktu itu disebut Mogi, dimana anak perempuan itu mendapatkan Kimono sebagai penanda kedewasaan mereka. 

Sekitar abad 19, Perayaan Genpuku dan Kanrei tidak terlalu sering dilakukan. Ini akibat dari perubahan struktur Pemerintahan Jepang. Pada tahun 1876, orang Jepang dikatakan dewasa ketika menginjak usia 20 tahun, namun saat itu perayaan kedewasaan belum dilakukan secara formal. 

Sejak ditetapkan tahun 1948 hingga tahun 1999, Hari Kedewasaan selalu diadakan tanggal 15 Januari bertepatan dengan hari tahun baru kecil untuk meneruskan tradisi Genbuku yang selalu diadakan pada hari yang sama. 

Saturday, 9 February 2013

PERAYAAN TAHUN BARU DI JEPANG



Setiap negara tentu memiliki cara tersendiri untuk menyambut dan merayakan Tahun Baru. Di Jepang, kegiatan menyambut tahun baru sudah dimulai sejak dua atau tiga minggu sebelum pergantian tahun. Di daerah Kanto, hari persiapan tahun baru yang disebut o-koto hajime (お事始め, awal kegiatan) jatuh pada 8 Desember, sedangkan di daerah Kansai pada 13 Desember. Mereka memiliki beberapa kebiasaan dan tradisi yang masih dilakukan sampai sekarang. Selain itu masyarakat Jepang masih memegang tradisi lama dan menggabungkannya dengan aktivitas modern dalam merayakan tahun baru.


Bersih-bersih atau Osouji

Acara bersih-bersih di akhir tahun ini sedikit berbeda dengan bersih-bersih harian karena bersifat total dan besar-besaran. Kegiatan ini juga biasanya melibatkan hampir semua anggota keluarga. Semua sudut dan pojok rumah yang biasanya tidak tersentuh sapu atau lap sama sekali pada hari tersebut mulai mendapat bagian. Semua isi lemari dibongkar dan disusun ulang. Bukan cuma itu, kulkas, mesin cuci dan benda berat lainya digeser dan dibersihkan terutama bagian belakang dan bawah. Menyisakan debu dan kekotoran lain pada tahun berikutnya dipercaya akan mendatangkan pengaruh buruk pada diri atau keluarga.



Tentu saja, aktivitas ini bisa dibilang sangat melelahkan dan tidak jarang bisa berlangsung selama beberapa hari terutama bagi mereka yang mempunyai rumah cukup luas. Bagi keluarga yang anggotanya berusia lanjut tentu akan menjadi masalah besar. Biasanya anak atau keluarga lain akan ikut membantu, namun tidak jarang karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan banyak keluarga yang lebih senang memakai jasa pembersih rumah.

Sedangkan khusus untuk lingkungan kuil, aktivitas bersih bersih ini dianggap sebagai bagian dari upacara ritual.


Hiasan, Dekorasi atau sesajen

Shimenawa biasa kita lihat di kuil-kuil


Shimenawa

Setelah acara bersih-bersih selesai, maka dilanjutkan dengan acara mendekorasi rumah atau kantor.  Ada cukup banyak hiasan yang ada, namun yang umum ditemukan adalah Shimenawa, yaitu hiasan yang digantung di depan rumah, berupa jerami yang dibentuk sedemikan rupa membentuk bulatan dipadu dengan daun cemara dan dipasang di depan rumah. Kemudian dekorasi lain yang biasa ditemukan adalah kagami mochi yaitu tumpukan kue mochi dan jeruk namun entah kerena alasan praktis atau apa, buah jeruk kebanyakan sudah diganti dengan buah plastik yang menyerupai jeruk

Kagami Mochi... Hmmmm jadi pengen punya yang seperti ini di rumah.


Kagami mochi

Untuk pusat perbelanjaan toko dan sejenisnya biasanya akan memasang hiasan yang cukup besar yang berbentuk tiga bambu runcing berukuran besar berpadu dengan daun cemara atau pohon lain. Hiasan ini disebut dengan nama Kadomatsu.

Kadomatsu, hiasan yang pasti ada setiap tahun baru

Kadomatsu


Berkirim Kartu Pos atau Nengajou

Sudah menjadi kebiasaan dari kebanyakan orang Jepang untuk mengirim kartu pos sebelum tahun baru yang dikenal dengan nama Nengajou. Kartu yang dikirim umumnya rata rata sekitar lima lembar untuk tiap orang atau satu keluarga, sedangkan bagi mereka yang memiliki tempat usaha (bisnis) umumnya akan lebih banyak lagi. Jadi bisa dibayangkan ada berapa juta lembar kartu post yang beredar pada acara peringatan tahun baru.


「明けましておめでとうございます、今年もどうぞよろしくお願いします。コリーン。ベード2010年1月1日」


Jadi kamu bisa bayangkan betapa sibuknya petugas pos di Jepang setiap menjelang akhir tahun. Untuk mengatasi lonjakan surat yang luar biasa besar ini, pihak pos biasanya akan membuka lowongan kerja paruh waktu besar besaran pada setiap akhir tahun yang biasanya direkrut dari anak sekolahan.

Profesionalisme petugas pos sangat dipertaruhkan saat itu, karena semua surat harus dikirim tepat waktu, tidak boleh dikirim terlambat dan juga tidak boleh dikirim terlalu cepat. Umumnya kartu pos tahun baru memiliki tanda khusus agar mudah dibedakan dengan kartu pos atau surat biasa. Umumnya kartu pos bertanda khusus ini akan disimpan terlebih dahulu, dipilah dan digabung menjadi satu serta mengirimnya pada hari yang tepat. Jadi surat akan kita dalam satu ikat berisi belasan atau bahkan puluhan kartu post ucapan tahun baru.

Menyiapkan Makanan Khusus atau Osechi

Selama tahun baru dan beberapa hari setelahnya umumnya keluarga di Jepang tidak melakukan acara masak memasak, jadi acara memasak ini dilakukan sebelum tahun baru.  Makanan itu disebut dengan Osechi yaitu terdiri dari berbagai lauk pauk, ketela, ikan kering, udang dll, berwarna sedikit gelap atau coklat. Sup zōni dari kuah dashi yang berisi mochi dan sayuran merupakan salah satu masakan osechi. Berbagai macam lauk masakan osechi dimasak berhari-hari sebelumnya dan diatur di dalam kotak kayu bersusun yang disebut jūbako (重箱?). Toko swalayan besar sejak beberapa minggu sebelum tahun baru juga sudah membuka pemesanan osechi. Lauk pada masakan osechi biasanya sangat manis atau asin, seperti: kuromame, tatsukuri (gomame), kombumaki, kamaboko, kurikinton, kazunoko, dan datemaki.

Osechi

Cara membuat makanan ini relatif rumit karena ditutut harus bisa tahan selama dua tau tiga hari. Keluarga Jepang modern sekarang umumnya sudah tidak membuatnya lagi namun cukup membelinya pada toko tertentu. Makanan osechi ini berharga cukup mahal, yaitu sekitar 20 ribuan yen yang kalau dirupiahkan adalah sekitar 2 jutaan per set. Satu set umumnya terdiri dari tiga kotak kayu yang mewah dan dibungkus dengan kain bermotif yang sangat indah.

Bonenkai

Bonenkai adalah salah satu tradisi ataupun kebiasaan yang diadakan beberapa perusahaan ataupun perkumpulan organisasi di Jepang yang diadakan di sekitar akhir Desember, menjelang tutup buku tahunan. Arti secara terminologi dilihat dari kanji yang tertulis,“Bonenkai (忘年会)”memiliki makna: Pesta untuk melupakan tahun (lama).



Untuk mensukseskan acara bonenkai ini, biasanya satu orang akan ditunjuk menjadi‘Kanji (幹事)’yang bertugas menjadi koordinator; Mengkoordinasi acara, melakukan pemesanan tempat dan menghubungi orang-orang yang akan berpartisipasi dalam acara tersebut. Biasanya, jauh-jauh hari, beberapa restauran ataupun hotel sudah penuh terpesan oleh beberapa group yang ingin merayakan bonenkai. Acara ini diawali dengan ‘Kanpai’ (minum bersama) yang kemudian dilanjutkan dengan makan-makan, berkaraoke, atau minum-minum sampai mabuk hingga larut malam. Berusaha melupakan beberapa hal yang tidak menyenangkan selama menjalani kerja satu tahun.

Puncak Perayaan Malam Tahun Baru

Hari tanggal 31 Desember atau malam tahun baru disebut ōmisoka (大晦日?). Di malam tahun baru, orang Jepang mempunyai tradisi memakan soba yang disebut toshikoshi soba (年越しそば, soba melewati tahun).
Stasiun televisi di Jepang bersaing memperebutkan pemirsa dengan berbagai acara malam tahun baru. NHK mempunyai tradisi menayangkan acara Kōhaku Uta Gassen, berupa kompetisi lagu antarpenyanyi terkenal yang dibagi menjadi kubu merah dan kubu putih. Menjelang pukul 12 malam, genta yang terdapat di berbagai kuil agama Buddha di Jepang dibunyikan. Tradisi memukul genta menjelang pergantian tahun disebut joya no kane (除夜の鐘). Genta dibunyikan sebanyak 108 kali sebagai perlambang 108 jenis nafsu jahat manusia yang harus dihalau. Selain itu festival kembang api (hanabi) selalu memeriahkan Tahun Baru di kota-kota besar.



Doa pergantian tahun

Lho? Kok berdoa, bukannya pesta ? Ya, inilah perayaan unik  tahun baru ala Jepang. Jadi jangan harap menemukan kemeriahan pesta kembang api, kemacetan jalan, suara klakson dan terompet. Suasana jalan terlihat sepi dan biasa biasa saja namun justru area sekitar kuil-lah yang luar biasa karena penuh dengan kerumunan orang yang menyemut. Bahkan sekedar untuk bisa masuk melewati gerbang utamapun sepertinya bukan perjuangan yang mudah karena harus melewati antrean yang sangat panjang bahkan sampai jauh ke jalan raya. Sedikit catatan, bulan desember adalah musim dingin di Jepang, jadi bisa dibayangkan berdiri di luar rumah di tengah dinginnya malam selama berjam-jam tentu bukan aktivitas yang menyenangkan.



Umumnya jadwal kereta api di Jepang akan berakhir tengah malam namun khusus untuk tahun baru, semua kereta bawah tanah pusat kota dan kereta biasa untuk jalur tertentu akan dibuka nonstop 24 jam. Jadi  khusus untuk tahun baru, siapaun bisa melewati tahun baru dengan nyaman tanpa ada rasa khawatir ketinggalan kereta saat pulang.

Tepat tengah malam, saat hitungan mundur mulai menyentuh angka nol, kerumunan orang di halaman utama secara serentak melempar kepingan uang logam ke arah altar utama dan tangan dicakupkan di dada dan doa yang tidak lebih dari 5 detik itupun selesai.  Antrean di luar kuil yang tadinya tertahan mulai bisa bergerak dan secara perlahan lahan mulai memasuki altar utama untuk berdoa. Suasana menjadi lebih tertib dan ritual melempar uang koin sebelum memanjatkan doa menjadi lebih terarah dan tidak sampai mengenai kepala orang seperti kejadian sebelumnya.

Menjelang pagi kuil bukannya menjadi sepi tapi malah bertambah ramai karena kebanyakan orang ingin datang ke kuil sepagi mungkin dan khusus untuk tahun baru dan aktivitas ini disebut dengan Hatsumoude atau kunjungan hari pertama ke kuil. Untuk kuil kecil dan menengah, keramaian umumnya hanya berlangsung sampai tengah hari, sedangkan untuk kuil besar umumnya bisa berlangsung sampai 2 atau 3 hari setelah tahun baru
.
Minum sake




Setelah melakukan doa, biasanya kebanyakan orang akan mendatangi bagian penjualan Omamori atau jimat keberuntungan, Omikuji atau kertas yang berisi ramalan nasib yang akan diikat di ranting atau tempat yang disediakan kalau ramalannya jelek dan dibawa pulang kalau bagus. Beberapa kuil tertentu kadang ada ritual minum sake sebagai simbul pencucian atau kebersihan. Sake disajikan dalam piring sangat kecil berbentuk datar, jauh lebih kecil dari piring sake standard, jadi hanya bisa menampung beberapa mili liter sake saja namun menurut aturan lalu lintas, sudah melebihi ambang batas minimal. Jadi para pengemudi dan juga mereka yang belum genap berumur 20 tahun tidak mengkonsumsinya.

omamori

Umumnya kuil yang menggelar pergantian tahun dengan berdoa adalah kuil Shinto jadi menjelang tahun baru kuil kelompok inilah yang paling. Kuil  Buddha hampir tidak melakukan aktivitas khusus yang berskala masal kecuali doa biasa dan Osouji. Namun walaupun begitu setidaknya tepat menjelang tengah malam kita tetap bisa mendengar suara lonceng besar yang dipukul berulang kali yang bisa didengar hingga jarak ratusan meter, sebagai tanda pergantian tahun.  Untuk lingkungan gereja sepertinya juga melakukan hal yang tidak jauh berbeda.




omikuji


Tahun baru (正月 : shōgatsu) di Jepang dirayakan tanggal 1 Januari dan berlangsung hingga tanggal 3 Januari. Dalam bahasa Jepang, kata “shōgatsu” dulunya dipakai untuk nama bulan pertama dalam setahun, tapi sekarang hanya digunakan untuk menyebut tiga hari pertama di awal tahun.
Istilah “shōgatsu” juga digunakan untuk periode matsu no uchi (松の内) atau masa hiasan daun pinus (matsu) boleh dipajang. Di daerah Kanto, Matsu no uchi berlangsung dari tanggal 1 Januari hingga 7 Januari, sedangkan di daerah Kansai berlangsung hingga koshōgatsu (小正月, tahun baru kecil) tanggal 15 Januari.
Tanggal 1 Januari adalah hari libur resmi di Jepang, tapi kantor pemerintah dan perusahaan swasta tutup sejak tanggal 29 Desember hingga 3 Januari. Bank dan lembaga perbankan tutup dari tanggal 31 Desember hingga 3 Januari, kecuali sebagian ATM yang masih melayani transaksi.
Tanggal 1 Januari disebut ganjitsu (元日, hari pertama), sedangkan pagi hari 1 Januari disebut gantan (元旦, pagi pertama). Perayaan tahun baru berlangsung selama tiga hari yang disebut sanganichi (三が日, 3 hari).
Sampai tahun 1970-an, sebagian besar toko dan pedagang eceran di daerah Kanto tutup hingga tanggal 5 Januari atau 7 Januari. Perubahan gaya hidup dan persaingan dari toko yang buka 24 jam membuat kebiasaan libur berlama-lama ditinggalkan. Mulai tahun 1990-an, hampir semua mal dan pertokoan hanya tutup tanggal 1 Januari dan mulai buka keesokan harinya tanggal 2 Januari, tapi biasanya dengan jam buka yang diperpendek. Hari pertama penjualan barang (hatsu-uri) di pusat pertokoan dimeriahkan dengan penjualan fukubukuro (kantong keberuntungan). Penjualan barang di semua mal dan pertokoan sudah normal kembali sekitar tanggal 4 Januari.
Bagi sebagian orang, tahun baru belum berakhir sampai tanggal 20 Januari yang disebut hatsuka shōgatsu (二十日正月, tahun baru tanggal 20), saat semua hiasan tahun baru sudah harus disimpan. Di daerah Kansai, Hatsuka shōgatsu dikenal sebagai honeshōgatsu (骨正月, tahun baru tulang) karena biasanya pada hari tersebut, ikan masakan tahun baru sudah habis dimakan sampai ke tulang-tulangnya.
Penutupan perayaan tahun baru ditandai dengan memakan bubur nanakusa yang dimasak dengan 7 jenis sayuran dan rumput. Bubur ini dimakan tanggal 7 atau 15 Januari agar perut bisa beristirahat setelah dipenuhi makanan tahun baru.
Shinnenkai
Shinnenkai
Shinnenkai (新年会), secara harfiah berarti pertemuan tahun baru, adalah tradisi Jepang dalam menyambut kedatangan tahun baru. Hampir sama dengan Bonenkai, acara ini diadakan antara para pekerja atau teman yang dilakukan pada bulan Januari.
Kesenian dan permainan
Perayaan tahun baru juga dimeriahkan dengan menulis aksara kanji pertama untuk tahun tersebut. Tradisi menulis aksara kanji yang dilakukan tanggal 2 Januari disebut kakizome (kaligrafi pertama)
kakizome
. Tahun baru juga dirayakan dengan berbagai permainan, seperti: permainan fukuwarai (meletakkan gambar bagian-bagian wajah, seperti hidung, alis mata, dan mulut pada tempat yang tepat dengan mata tertutup), 
Fukuwarai
hanetsuki (bulu tangkis tradisional), 
Hanetsuki
menaikkan layang-layang (takoage), 
Takoage
gasing (koma), 
Koma
bermaindadu (sugoroku), 
Sugoroku
permainan memungut kartu yang disebut karuta.
Karuta
Otsohi dama
Sehari setelah tahun baru, umumnya keluarga atau tetangga akan saling berkunjung mengucapkan selamat tahun baru. Mereka biasanya membawa anggota keluarga secara lengkap termasuk anak anak. Dari pihak tuan rumah, setap anak akan mendapatkan sejumlah uang yang ditaruh di dalam amplop semacam anpao dalam tradisi China atau Otoshi dama dalam bahasa Jepang.  iOtoshi dama sendiri sebetulnya berarti otoshi (jatuh) dan dama atau tama (uang logam), namun dewasa ini pemberian uang logam untuk otoshi dama sudah tidak umum lagi dan cendrung berganti menjadi uang kertas yang biasanya minimal adalah 1000 yen atau sekitar 100 ribu rupiah.
Fukubukuro

Fukubukuro
Fukubukuro adalah tas belanja keberuntungan. Aktivitas ini sepertinya hanyalah akal akalan dari pedagang dalam menjual barang dagangannya. Sejumlah barang dijual dalam bungkusan khusus yang tanpa bisa kita lihat dan pilih isinya, jadi semuanya hanya berdasarkan keberuntungan semata. Walaupun gaya belanja semacam ini bagi sebagian orang aneh, namun tetap saja ramai dan jadi rebutan. Kalau kita antre di counter atau toko yang menjual mainan dan robot, tentu isinya adalah robot dan mainan saja demikian juga dengan counter atau toko lainnya. Bagi anda yang ingin mencobanya diharapkan untuk cukup kuat secara phisik karena harus rebutan dan juga yang paling penting tidak salah memilih counter atau memasuki toko. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi seandainya seorang pria salah masuk ke counter pakaian dalam wanita. Dalam suasana panik dan berebutan, hal itu tampaknya bisa saja terjadi.
Kunjungan ke tempat rekreasi
Sepertinya hal ini berlaku di belahan dunia manapun sehingga sepertinya tidak perlu banyak ditulis. Apalagi tahun baru adalah hari libur jadi tempat tempat wisata, pertokoan dan juga onsen atau tempat pemandian air panas biasanya pasti penuh sesak dengan pengunjung.
Makanan dan minuman khas tahun baru
Selain Osechi yang sudah disebutkan sebelumnya, ada 2 jenis makanan dan minuman lain yang merupakan ciri khas dari tahun baru di Jepang, yaitu:
Kue Mochi
Tahun baru identik dengan kue mochi yaitu kue ketan yang ditumbuk dan dibulatkan. Kue ini bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama dan dihidangkan dengan cara memanggangnya di oven toaster. Karena kebanyakan keluarga di negara tersebut umumnya tidak memasak pada saat tahun baru maka kue mochi menjadi salah satu makanan alternatif yang digemari karena keawetannya.


Ama sake
Walaupun namanya adalah sake namun sama sekali tidak memiliki kadar alkohol alias zero sehingga bebas dikonsumsi oleh anak anak. Rasanya sangat manis sesuai dengan namanya yaitu Ama sake yang berasal dari kata amai yaitu manis. Rasanya seperti minum air gula dengan rasa jahe.

Nah kira-kira seperti itulah perayaan tahun baru di Jepang. Menarik, kan?? Hmmm mudah-mudah kita semua bisa turut merasakan perayaan tahun baru di Jepang suatu saat nanti ya, Minna-san. ^^



Monday, 4 February 2013

Setsubun

Setsubun adalah nama perayaan sekaligus istilah yang digunakan di Jepang untuk hari sebelum hari pertama setiap musim. Tapi sekarang hanya dilakukan pada awal musim Semi yaitu sekitar tanggal 3-4 Februari Setiap Tahunya. Pada zaman kuno, setsubun adalah perayaan tahunan di Istana Kaisar, ditandai berbagai boneka dari tanah liat yang diberi warna dan dipajang di berbagai pintu gerbang dalam lingkungan istana. Boneka-boneka yang dibuat berbentuk seperti anak-anak dan sapi.



Di zaman modern, berbagai tradisi kuno setsubun lenyap digantikan tradisi melempar kacang dan menegakkan kepala ikan sardin yang ditusuk dengan ranting pohon hiiragi di pintu masuk rumah pada saat senja di hari setsubun. Di beberapa daerah di Jepang, orang menggantung kepala ikan sardin dan ranting pohon hiiragi di atas pintu rumah. Tradisi tersebut dilakukan untuk mengusir oni(roh jahat) yang dipercaya lahir pada hari setsubun.

Tradisi

1. Melempar Kacang Kedelai



Kacang kedelai yang sudah disangrai matang dilempar-lemparkan ke arah pemeran "oni". Tradisi melempar kacang merupakan perlambang keinginan bebas dari penyakit dan selalu sehat sepanjang tahun. Oni korban lemparan kacang dipercaya akan lari karena kesakitan. Orang juga memakan kacang kedelai dalam jumlah yang sama dengan usia orang tersebut.

Tradisi setsubun adalah perpaduan upacara mengusir arwah jahat di istana yang berasal dari tradisi Tiongkok dan upacara Mamemaki (melempar kacang) yang memiliki tujuan mirip-mirip di kuil agama Buddha dan Shinto. Kacang yang dilempar-lemparkan biasanya adalah kedelai, tapi sering diganti dengan kacang tanah.

Kacang dilempar-lemparkan sambil mengucapkan mantera "Oni wa soto, fuku wa uchi" (Oni ke luar, keberuntungan ke dalam). Di beberapa daerah yang memiliki kuil yang dipercaya ditinggali oni, mantera dibalik menjadi "Oni wa uchi, fuku wa soto (Oni ke dalam, keberuntungan ke luar)," atau kedua-duanya diminta masuk ke dalam. Di rumah yang ditinggali orang yang memiliki nama keluarga dengan aksara kanji "Oni" (鬼?, jin) seperti "Onizuka" atau "Kitō," mantera juga tidak mengusir "Oni" ke luar.


鬼「oni」

Beberapa pekan menjelang hari setsubun, toko-toko swalayan mulai menjual kacang keberuntungan (fukumame) di tempat strategis yang mudah dilihat pembeli. Kacang dijual dengan bonus topeng bergambar Oni untuk dipakai bapak/ibu atau anggota keluarga yang berperan sebagai oni, sekaligus sasaran lemparan kacang anak-anak di rumah.

Di sekolah-sekolah dasar, upacara melempar kacang dilakukan murid berusia 12 tahun. Anak-anak yang berusia 12 tahun memiliki shio yang sama dengan shio untuk tahun itu. Kuil agama Buddha dan Shinto yang bekerjasama dengan taman kanak-kanak dan tempat penitipan anak mengadakan upacara melempar kacang oleh chigo (anak-anak kecil yang dirias) dan miko (pelayan wanita). Kuil besar mengadakan acara melempar kacang yang dilakukan atlet dan orang terkenal. Bungkusan kacang keberuntungan dilemparkan ke tengah-tengah khalayak ramai untuk ditangkap atau dipungut.

2. Makan sushi

Di daerah Kansai terdapat tradisi makan sushi yang disebut ehōmaki (sejenis futomaki yang belum dipotong-potong). Sushi dimakan tanpa berhenti sambil menghadap ke arah mata angin tempat bersemayam dewa keberuntungan untuk tahun tersebut. Sushi dipegang dengan kedua belah tangan dan orang yang sedang makan dilarang berbicara sampai sushi habis dimakan.




Pedagang di kota Osaka yang ingin bisnisnya lancar konon memiliki tradisi makan sushi di hari setsubun. Kebiasaan ini konon sudah dimulai di akhir zaman Edo atau awal zaman Meiji. Di awal zaman Showa, iklan tradisi memakan sushi di hari setsubun (marukaburi zushi) mulai dipasang pedagang sushi di Osaka agar orang mau membeli sushi.

Sesusai Perang Dunia II, tradisi makan sushi di hari setsubun sempat terhenti hingga tahun 1974. Pada tahun itu, pedagang nori di kota Osaka mengadakan lomba makan norimaki secepat-cepatnya. Pada tahun 1977, asosiasi pedagang nori Osaka kembali menghidupkan tradisi memakan sushi di hari setsubun dengan mengadakan acara promosi penjualan nori.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Setsubun